Minggu, 06 Januari 2013

Ilmu pengetahuan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW

1.    
               Pada masa Rasulullah saw. Ilmu pengetahuan belum begitu pesat seperti pada masa sekarang. Ketika itu, umat Islam masih terfokus pada penyebaran Islam. Al Quran dan Hadis Nabi menjadi pedoman hidup umat Islam pada waktu itu. Ilmu pengetahuan langsung bersumber dari Rasulullah melalui wahyu dari Malaikat Jibril. Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu pertama surat Al-Alaq 1-5. perintah membaca dari malaikat Jibril menandai bahwa Nabi Muhammad diperintahkan untuk mencari Ilmu. Kondisi ini dilanjutkan Nabi ketika beliau mengajak sahabat-sahabatnya untuk mempelajari Al-Qur’an di rumah Arqam. Hanya saja ilmu  pengetahuan yang diajarkan Nabi ini sebatas pada ajakan untuk mengesakan Allah (Tauhid) .Setelah itu, para sahabat selalu menghafal ayat-ayat yang telah mereka dengar dari Rasulullah saw. Dengan ilmu pengetahuan, seseorang akan menjadi mulia, terhormat, dan mampumenghadapai segala permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan. Allah SWT. Mengangkat derajat seseorang, karena mereka beriman dan diberi ilmu pengetahuan. Sebagaimana di dalam firmannya didalam surat Al Mujadilah ayat 58 yang berarti:
                                                                                                                
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yangberiman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
              Pembentukan Aqidah, Syari’ah, dan Akhlak itu disajikan oleh Rasulullah sebagai Mahaguru pendidik yang agung secara berangsur –angsur bersamaan dengan berangsur –angsurnya Al-Qur’an diturunkan kepada beliau. Pendidikan inipun diberikan dalam masa dua periode yaitu periode sebelum Hijrah yang berpusat di Mekkah. Dan periode sesudah Hijrah berpusat di Madinah. Kemudian sebelum beliau melaksanakan pendidikan secara terang – terangan kepada masyarakat luas setelah menerima wahyu, beliau membentuk kelompok yang berbentuk “ model pengajian “. Mula – mula hal ini dilakukan pada tempat di suatu bukit di luar kota Makkah tetapi kemudian berpindah ke rumah seorang pemuda bernama Al Arqam bin Abu Arqam yang berlangsung selama lebih kurang empat tahun. Pengikut pengajian itu berjumlah 40 orang, sebagian besar yang mengikuti adalah para pemuda.
             Adapun lembaga pendidikan yang terkenal pada masa Rasulullah adalah Mesjid. Sudah menjadi tradisi Rasulullah bahwa beliau duduk di mesjid Nabawi di Madinah guna memberikan pelajaran kepada para sahabat mengenai masalah – masalah keagamaan dan masalah – masalah duniawi.
            Ketika  Nabi Muhammad di madinah, mulailah ada tanda-tanda kemajuan. Beliau mengajak ummatnya untuk mendalami keimanan, memperbaiki ekonomi ummat, mengurusi masalah sosial, politik dan ketatanegaraan. Semua ilmu yang digunakan oleh nabi bersumber dari wahyu Al-Qur’an dan Al-Hadits.
 
2.     Ilmu pengetahuan Islam pada masa KhulafaurRasyidin.
            Sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Islam dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin. Khulafaur Rasyidin memiliki pengertian orang-orang yang terpilih dan mendapat petunjuk menjadi pengganti Nabi Muhammad SAW. Adapun yang mendapat sebutan Khulafaur rasyidin ada 4 yaitu: Abu Bakar As-Shidiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib.
            Pada masa Abu Bakar As-Shidiq, ilmu pengetahuan islam tidak berkembang maju, karena disibukkan dengan masalah-masalah seperti menumpas Nabi palsu, gerakan kaum murtad, gerakan kaum munafiq, dan memerangi yang enggan berzakat. Sekalipun demikian, banyak pula kemajuan yang dicapai pada masa ini yaitu; memperbaiki sosial ekonomi, pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an dan memperluas wilayah islam sampai ke Irak, persia dan Syiria.
            Pada masa Umar bin Khattab, perkembangan Islam juga sebatas pada perluasan kekuasaan Islam dan masalah ketatanegaraan (politik), namun demikian, pada masa ini juga dicapai kemajuan-kemajuan seperti; pembagian daerah kekuasaan Islam,membentuk Baitul mal, dan dewan angkatan perang, menetapkan tahun hijriyah, serta membangun masjid seperti masjidilharam, masjid nabawi, masjid Al-Aqsha, dan masjid Amr ibnu ‘Ash.
            Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, perkembangan ilmu pengetahuan Islam sudah berkembang maju terbukti dengan hasil yang dicapai khalifah Utsman yaitu; merenovasi masjid nabawi, usaha pengumpulan dan penulisan Al-Qur’an, pembentukan angkatan laut, dan perluasan wilayah Islam sampai ke Khurosan, Armenia, Tunisia dan Azerbeijan.
            Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, perkembangan Islam diwarnai oleh intrik-intrik politik terutama dari kelompok Muawiyah dan golongan khawarij. Namun demikian , khalifah Ali berhasil mempertahankan wilayah Islam dengan kedamaian sekalipun  masih terjadi peperangan. Setidaknya telah terjadi 2 peperangan pada masa ini yakni perang jamal( perang Onta), melawan pasukan Tholhah, Zubair, dan Aisyah)dan perang shifin (perang melawan Muawiyah ).
Usaha-usaha perbaikan yang dilakukan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah;
  1. Pada bidang pemerintahan, mengganti para gubernur yang diangkat  khalifah Utsman
  2. Menarik kembali tanah milik negara
  3. Menata kembali politik militer.
  4. Dalam bidang ilmu bahasa, ia merintahkan  Abul Aswad Ad Duali mengarang ilmu nahwu untuk mempelajari ilmu Al-Qur’an.
  5. Dalam bidang pembangunan, ia mampu membuat tata kota yang indah dan kuat yaitu kota Kufah.
3.     Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Islam pada masa Bani Umayyah.
        Pada masa Bani Umayyah banyak sekali usaha-usaha untuk mengembangkan ilmu pengetahuan terutama bidang seni dan budaya. Disamping itu juga berkembang ilmu Qiraat yang mempelajari tentang bacaan Al-Qur’an. Dalam dunia islam dikenal dengan 7 macam bacaan Al-Qur’an yang disebut “Qiraatu Sab’ah” diantara para pelopornya adalah Abdullah bin Katsir, Ashim bin Abi Nujud, dll.
            Pada masa ini berkembang juga ilmu Tafsir, tetapi perkembangannya hanya sebatas dari lisan ke lisan sampai akhirnya tertulis. Ahli Tafsir pertama adalah Ibnu Abbas, salah seorang sahabat nabi terkenal, ia wafat tahun 68 H.
            Perkembangan ilmu Hadits terjadi setelah ditemukan banyaknya penyimpangan dan penyelewengan dalam meriwayatkan sebuah Hadits, atau setelah diketahui banyaknya Hadits palsu yang dibuat oleh kelompok tertentu untuk kepentingan pilitik. Diantara Ahli Hadits pada masa itu adalah Abu Bakar Muhammad bin Syihab Az-Zuhri, wafat tahun 123 H. Pembukuan Hadits terjadi pada   masa ini ketika dipimpin oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H / 717-720 M)
4.       Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Islam pada masa Bani Abbasiyah.
            Pada masa ini merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang, khususnya bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pada masa ini ummat islam telah banyak melakukan kajian kritis tentang ilmu pengetahuan dengan cara penerjemahan berbagai buku karangan bangsa-bangsa terdahulu, seperti buku-buku karya bangsa Yunani, Romawi dan Persia, serta dari naskah-naskah yang ada di kawasan Timur Tengah dan Afrika seperti Mesopotamia dan Mesir.
            Khususnya pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid (170-193 H = 786-809 M) didirikan lembaga formal sebagai pusat pengkajian ilmu yang disebut “Darul Hikmah”. Dari lembaga inilah banyak melahirkan  sarjana dan para ahli ilmu pengetahuan yang membawa kejayaan Daulah Abbasiyah.
Diantara ilmu pengetahuan yang berkembang pesat pada masa itu ialah;
a.       Ilmu Tafsir. Yakni tafsir bil Ma’tsur (Al-Qur’an ditafsir dengan HaditsNabi ) dan Tafsir bil Ra’yi (Al-Qur’an ditafsir dengan akal pikiran).
Ahli tafsir bil ma’tsur adalah;Ibnu Jarir Al-Thabary, Ibnu ‘AthiyahAl-Andalusy, As-Sudai, Muqatil bin Sulaiman, dan Muhammad bin Ishak.
Sedangkan ahli Tafsir bil Ra’yi adalah;Abu Bakar Asam (Mu’tazilah), Abu Muslim Muhammad bin Bahr Isfahany, Ibnu Jaru Al-Asady, dan Abu Yunus Abdussalam.
b.      Ilmu Hadits.
Para Ahli Hadits yang terkenal, antara lain;
1.      Imam Bukhori, karyanya;Shahih Bukhari (Al-Jamius Shahih)
2.      Imam Muslim, karyanya Shahih Muslim (Al-Jamius Shahih)
3.      Ibnu Majah, karyanya Sunan Ibnu Majah
4.      Abu Daud, karyanya Sunan Abu Daud
5.      An-Nasa’i, karyanya Sunan Al-Nasai, dll.
c.       Ilmu Kalam. Diantara pelopor dan ahli ilmu kalam ialah: Washil bin Atho’, Abu Huzail Al-Allaf, Ad-Dhaham, Abu Hasan Al-Asy’ary, dan Imam Ghazali.
d.      Ilmu Tasawuf. Yaitu ilmu syari’at. Inti ajarannya ialah tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, menjauhkandiri dari kesenangan dunia dan bersembunyi diri untuk beribadah. Diantara tokoh-tokohnya adalah: Al-Qusairy, dan Imam Ghazali.
e.       Ilmu bahasa. Berpusat dikota Basrah dan Kufa. Para tokohnya adalah: Subawaih, Al-Kisai, dan Abu Zakaria Al-Farra.
f.        Ilmu Fiqih. Para fuqoha yang terkenal adalah:
1.      Imam Abu Hanifah, karyanya: fiqhu Akbar, Al-Alim wal Mutaan,dll.
2.      Imam Malik, karyanya: Al-Muwatha’
3.      Imam Syafii, karyanya: Al-Um, Ushul Fiqh, dll
4.      Imam Ahmad bin Hambal, karyanya: Musnad.
g.       Ilmu Kedokteran. Berkembang pesat pada akhir daulah AbbasiyahI, sedangkan puncaknya pada masa DaulahAbbasiyah II, III, dan IV. Para ahli bidang kedokteran adalah :
1.      Abu Zakaria Yuhana bin Masiwaih, ahli farmasi
2.      Sabur bin Sahal, direktur Rumah Sakit
3.      Abu Zakaria Al-Razy kepala para dokter Rumah Sakit Baghdad
4.      Ibnu Sina, karyanya yang terkenal Al-Qanun fi al Thibb.
h.      Ilmu Perbintangan. Diantara para ahli astronomi adalah:
1.      Abu Ma’syur al falaky, karyanya Isbatul Ulum dan Haiatul Falak
2.      Jabir Al-Batany, pencipta alat peneropong bintang pertama, karyanya Kitabu ma’rifati Mathlil Buruj Baina Arbail Falak.
3.      Raihan Al Bairuny, karyanya, Al-Tafhim liawaili Shina ‘atit Tanjim.
i.        Filsafat Islam (pemikiran Islam). Diantara para filosof Islam yang terkenaladalah:
1.      Abi Ishak Al-Kindy, karyanya; Filsafat, ilmu mantiq, handasah hisab, nujum dll.
2.      Abu Nashr Al-Faraby, karyanya 12 buah
3.      Ibnu Sina, Ibnu Majah, Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, dan Al-Abhary.
j.        Ilmu Sejarah. Diantara parasejarawan terkenal adalah:
1.      Abu Ismail Al-Azdy, karyanya Futuhus Syam.
2.      Al-Waqidy, karyanya Kitab Al-Magazy, Fathu Afrika, Fathul Ajam, dll.
3.      Ibnu Saad, karyanya At Thabaqatul Kubra.
4.      Ibnu Hasyim, karyanya Sarah ibnu Hisyam.
5.    Kesimpulan
       Dari  penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Islam begitu pesat seperti pada masa sekarang dan sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Islam dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin. Khulafaur Rasyidin memiliki pengertian orang-orang yang terpilih dan mendapat petunjuk menjadi pengganti Nabi Muhammad SAW. Adapun yang mendapat sebutan Khulafaur rasyidin ada 4 yaitu: Abu Bakar As-Shidiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib. Pada masa Bani Abbasiyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang, khususnya bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Khususnya pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid (170-193 H = 786-809 M) didirikan lembaga formal sebagai pusat pengkajian ilmu yang disebut “Darul Hikmah”. Dari lembaga inilah banyak melahirkan  sarjana dan para ahli ilmu pengetahuan yang membawa kejayaan Daulah Abbasiyah.

3 komentar: