Minggu, 06 Januari 2013

Membantu Para Remaja Menjadi Pembelajar dan Guru yang Hebat Oleh Michael Barber Pengembang Kurikulum, Departemen Keimamatan



    Kurikulum remaja yang baru, Ikutlah Aku: Sumber-Sumber Pembelajaran bagi Remaja, menekankan empat cara para orang tua, guru, dan pemimpin dapat secara efektif membantu para remaja menjadi diinsafkan pada Injil.
Dalam sebuah kisah tulisan suci mengenai masa remaja Kristus, kita belajar bahwa Juruselamat saat berusia 12 tahun ditemukan “di dalam bait suci, sedang duduk di tengah para alim ulama, dan mereka sedang mendengar Dia, dan mengajukan kepada-Nya pertanyaan.
“Dan semua orang yang mendengar Dia takjub terhadap pengertian dan jawaban-Nya” (Terjemahan Joseph Smith, Lukas 2:46–47 [dalam Lukas 2:46, catatan kaki c]).
Sejak usia muda Juruselamat secara aktif berperan serta dalam pembelajaran dan pengajaran Injil. Di bait suci, Juruselamat mengajarkan asas-asas Injil kepada mereka yang dianggap jauh lebih terpelajar dan berpengalaman daripada Dia. Namun Dia memahami bahwa pembelajaran dan pengajaran Injil merupakan bagian dari “urusan Bapa-Nya” (Lukas 2:49) dan merupakan inti bagi misi ilahi-Nya di bumi.
Tak diragukan lagi, Yesus Kristus adalah pembelajar dan guru Injil yang luar biasa, bahkan di usia muda; namun Dia tumbuh dalam kemampuan-Nya untuk memahami serta mengajarkan ajaran. Tulisan suci menceritakan kepada kita bahwa Dia “melanjutkan dari kasih karunia ke kasih karunia, sampai Dia menerima kegenapan” (A&P 93:13). Sewaktu kaum muda zaman sekarang secara konsisten menyelaraskan kehidupan mereka dengan apa yang mereka ketahui adalah benar, mereka juga dapat benar-benar menjadi diinsafkan pada Juruselamat dan Injil-Nya serta meningkat dalam kebijaksanaan “baris demi baris, ajaran demi ajaran” (2 Nefi 28:30).
Dalam sebuah panduan untuk materi kurikulum remaja yang baru, Presidensi Utama menyatakan, “Anda dipanggil oleh Tuhan untuk membantu para remaja menjadi diinsafkan pada Injil.”1 Sewaktu kita menelaah dan meneladani pelayanan Juruselamat, kita akan dapat secara efektif mendukung para remaja kita dalam perjalanan mereka untuk belajar, menjalankan, serta mengajarkan Injil Yesus Kristus. Seperti Juruselamat, kita dapat mempersiapkan diri kita secara rohani, menanggapi kebutuhan para remaja kita, mendorong mereka untuk menemukan kebenaran Injil, serta menantang mereka untuk menjadi diinsafkan sewaktu mereka bertindak dalam iman.

Bersiaplah Secara Rohani

Sebelum memulai pelayanan fana-Nya, Juruselamat mempersiapkan Diri-Nya secara rohani melalui penelaahan, doa, dan puasa yang tekun. Dia ”dituntun oleh Roh ke padang belantara, untuk berada bersama Allah” dan “berpuasa empat puluh hari empat puluh malam” (Terjemahan Joseph Smith, Matius 4:1–2 [dalam Matius 4:1, catatan kaki b]). Di akhir puasa-Nya, Juruselamat menghadapi serangkaian pencobaan dari si musuh. Penelahaan tulisan suci sebelumnya membantu saat Yesus menghadapi setiap godaan dengan ayat-ayat dari tulisan suci (lihat Matius 4:3–10). Persiapan rohani memungkinkan Dia tidak saja memerangi godaan dengan berhasil sepanjang hidup-Nya, namun juga mengajarkan Injil secara luar biasa di sepanjang pelayanan-Nya.
Mengajar para remaja memerlukan lebih banyak persiapan daripada sekadar momen-momen melihat sekilas buku pedoman sebelum kita mulai mengajar. Tuhan memerintahkan, “Janganlah berupaya untuk memaklumkan firman-Ku, tetapi lebih dahulu upayakanlah untuk mendapatkan firman-Ku” (A&P 11:21). Kita mempersiapkan diri secara rohani melalui secara sungguh-sungguh menelaah tulisan suci dan perkataan para nabi yang hidup untuk mempelajari ajaran sejati. Sewaktu kita mempersiapkan diri dengan cara ini, Roh Kudus meneguhkan kebenaran mengenai ajaran itu dan membisiki kita untuk mengingat pengalaman-pengalaman menjalankan ajaran yang dapat kita bagikan.
Sewaktu mengajar para remaja putri mengenai pentingnya wahyu pribadi, Estefani Melero dari Pasak Lima Peru Surco dibisiki untuk membagikan pengalamannya dalam mencari kesaksian di usia 14 tahun. Dia bersaksi kepada remaja putri bahwa sewaktu dia dengan khusyuk berdoa untuk mengetahui kebenaran Injil, sebuah suara seakan membisikkan ke dalam hatinya kata-kata yang tidak pernah dia lupakan: “Kamu mengetahui itu benar, Estefani. Kamu telah mengetahuinya.”
Sewaktu kita menelaah dan menjalankan ajaran yang kita ajarkan, kita menjadi lebih dari sekadar guru—kita menjadi para saksi akan kebenaran.
Pertanyaan untuk Direnungkan: Tulisan suci lain apa yang memperlihatkan bagaimana Juruselamat mempersiapkan Diri-Nya untuk mengajar? Bagaimanakah upaya-upaya Anda untuk mempersiapkan diri untuk mengajar telah memengaruhi keefektifan pesan Anda?

Berfokuslah pada Kebutuhan

Dalam interaksi-Nya dengan seorang penguasa muda yang kaya, Juruselamat memperlihatkan bahwa Dia memahami kebutuhan mereka yang Dia ajar. Penguasa muda itu memulai dengan pertanyaan, “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Setelah Juruselamat mengajarkan pentingnya menaati perintah-perintah, penguasa muda itu menjawab, “Semua [perintah] itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Mengetahui bahwa hati sang penguasa muda itu masih kekurangan “satu hal,” Yesus menantang pria itu untuk menjual semua miliknya, memberikannya kepada yang miskin, dan mengikuti Dia (lihat Lukas 18:18–23). Ketika kita berdoa memohon wahyu dan menjadi tanggap terhadap minat, pengharapan, dan hasrat para remaja, kita akan—sebagaimana yang Juruselamat lakukan—mengetahui bagaimana mengajar dan menantang mereka untuk menjalankan Injil dalam cara-cara yang pribadi dan bermakna.
Presiden Boyd K. Packer, Presiden Kuorum Dua Belas Rasul, telah menyatakan bahwa “para remaja dibesarkan di wilayah musuh.”2 Sebagai orang tua dan guru, kita harus memahami kesulitan-kesulitan yang para remaja kita hadapi. Kevin Toutai, seorang guru Sekolah Minggu remaja di Pasak Columbine Colorado, menyatakan, “Tantangan yang para remaja hadapi tidak dapat diajarkan dari sebuah buku pedoman. Itu adalah wahyu pribadi yang kita terima sebagai guru untuk maju dan dapat mempersiapkan para remaja kita untuk memerangi Setan setiap hari. Saya telah melihat bahwa Anda tidak bisa sekadar muncul di hari Minggu dengan sebuah buku pedoman dan mengajarkan sebuah pelajaran.”
Membantu para remaja belajar dan menjalankan Injil melibatkan upaya terpadu dari para orang tua, pemimpin, pembimbing, dan guru. Sewaktu kita mencari ilham dari Roh Kudus, kita dapat secara efektif mengajarkan ajaran yang akan mempersiapkan para remaja bagi godaan dan tantangan yang mereka hadapi.
Pertanyaan untuk Direnungkan: Bagaimanakah dunia berbeda dewasa ini dari ketika Anda remaja? Tantangan-tantangan apa yang Anda lihat menghadang para remaja? Ajaran-ajaran Injil manakah, yang ketika dipahami, akan membantu mereka secara berhasil menghadapi tantangan?

Undanglah Remaja untuk Menemukan Kebenaran-Kebenaran Injil

Juruselamat mengajar para murid-Nya dalam cara-cara yang mengimbau mereka untuk menemukan kebenaran dan memperoleh kesaksian pribadi. Ketika mengajar orang-orang Nefi, Dia berfirman,
“Aku merasa bahwa kamu lemah, bahwa kamu tidak dapat mengerti semua firman-Ku yang Aku diperintahkan oleh Bapa untuk memfirmankan kepadamu pada waktu ini.
Oleh karena itu, kembalilah kamu ke rumahmu, dan renungkanlah apa yang telah Aku firmankan, dan mintalah kepada Bapa, dalam nama-Ku, agar kamu boleh mengerti, dan persiapkanlah pikiranmu untuk esok hari” (3 Nefi 17:2–3).
Pengajaran yang menyerupai Kristus melibatkan lebih dari sekadar menyampaikan informasi. Itu mencakup membimbing para remaja untuk memahami ajaran bagi diri mereka sendiri. Sementara kita dapat tergoda untuk menguliahi mereka mengenai Injil, kita akan lebih efektif ketika kita membantu mereka menemukan jawaban bagi diri mereka sendiri, memungkinkan mereka untuk memperoleh kesaksian mereka sendiri, dan mengajarkan kepada mereka bagaimana menemukan jawaban ketika mereka memiliki pertanyaan lainnya. Sebagaimana ditekankan dalam kurikulum remaja yang baru, Ikutlah Aku: Sumber-Sumber Pembelajaran bagi Remaja, kita juga dapat mengundang mereka untuk membagikan pengalaman mereka menjalankan Injil dan untuk bersaksi kepada teman sebaya mereka tentang hal-hal yang mereka ketahui adalah benar.
Penatua Kim B. Clark, Tujuh Puluh Area dan presiden BYU–Idaho, baru-baru ini menceritakan kisah mengenai sebuah kuorum diaken dimana pembimbingnya tengah membahas doa bersama mereka. Secara tak diduga, presiden kuorum diakennya mengangkat tangannya dan mengatakan, “Saya ingin mengajukan pertanyaan kepada kuorum. Berapa banyak dari Anda yang bersedia berkomitmen untuk berdoa pagi dan malam setiap harinya minggu ini?” Semua anggota kuorum mengangkat tangan mereka kecuali seorang remaja putra, yang tidak percaya diri dia dapat melewati tantangan itu. Pembimbing itu berhenti dan menyaksikan sewaktu para anggota kuorum tersebut mengajar dan bersaksi kepada teman sebaya mereka mengenai doa, membantunya memperoleh kepercayaan diri untuk menerima tantangan.
Pertanyaan untuk Direnungkan: Dalam hal-hal apa Anda memerhatikan para guru mengimbau para anggota kelas untuk berperan aktif dalam pembelajaran? Bagaimana Anda dapat membantu para remaja yang bekerja bersama Anda untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan penelaahan Injil? Selain pembahasan, apa sajakah cara-cara lainnya untuk melibatkan para remaja dalam pembelajaran Injil?

Doronglah Keinsafan

Keinsafan adalah proses seumur hidup yang melibatkan baik mempelajari maupun menjalankan Injil setiap hari. Lebih dari sekadar mengetahui mengenai Injil, keinsafan “menuntut kita untuk melakukan dan untuk menjadi.3 Setelah mengajar para murid-Nya mengenai belas kasihan orang Samaria yang baik hati, Juruselamat menantang mereka, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37). Dia mengimbau mereka untuk menjadi lebih dari sekadar pendengar firman dan untuk bertindak dalam iman terhadap ajaran-ajaran-Nya.
Kita harus mengimbau para remaja untuk menjalankan Injil dengan tekun karena keinsafan, biasanya tidak terjadi, selama satu momen pengajaran. Keinsafan paling baik terjadi ketika para remaja memahami ajaran sejati dan membangun pola penelahaan Injil serta kehidupan yang saleh, sebagaimana yang kita imbau untuk mereka lakukan dalam Ikutlah Aku.
Krista Warnick, presiden Remaja Putri di Pasak Arapahoe Colorado, menuturkan, “Para remaja dewasa ini menghadapi serangan gencar akan tantangan yang bahkan tidak saya dengar sampai saya cukup tua dalam hidup. Saya mengembangkan kesaksian saya terutama ketika saya meningkat sesuai kemampuan saya sendiri dan mampu mengupayakan serta menerapkan hal-hal yang telah saya pelajari di kelas-kelas Remaja Putri. Memberi para remaja tantangan dan kesempatan untuk menjalankan iman mereka akan membantu mereka mengembangkan dasar-dasar kesaksian mereka di usia yang jauh lebih muda.”
Tantangan bagi keinsafan bukan hanya bahwa kita mempelajari Injil namun juga bahwa kita berubah karena apa yang kita pelajari. Kita perlu membantu para remaja kita memahami bahwa “perubahan yang hebat” (Alma 5:14) dari hati mereka tidak mungkin terjadi secara cepat, namun itu akan datang secara bertahap sewaktu mereka mengembangkan kebiasaan-kebiasaan penelahaan yang konsisten, selalu berdoa, dan menaati perintah-perintah. Sewaktu mereka melakukan hal-hal ini, mereka akan memerhatikan bahwa hasrat, sikap, dan tindakan mereka berubah untuk merefleksikan kehendak Bapa Surgawi.
Pertanyaan untuk Direnungkan: Peran apa yang upaya Anda untuk mempelajari dan menjalankan Injil mainkan dalam keinsafan Anda sendiri? Bagaimana Anda telah dikuatkan oleh orang tua dan para guru serta pemimpin Gereja?

Mendukung Remaja Kita

Ikutlah Aku mewakili hanya sebagian dari upaya untuk mendukung remaja. Selain tanggung jawab individual dari setiap remaja untuk menjadi lebih sepenuhnya diinsafkan, “para orang tua memiliki tanggung jawab utama untuk membantu anak-anak mereka mengetahui Bapa Surgawi dan Putra-Nya, Yesus Kristus.”4 Kita yang bekerja bersama remaja mampu untuk mendukung para orang tua dan mengikuti teladan Juruselamat ketika kita mempersiapkan diri secara rohani, berfokus pada kebutuhan remaja, mengundang mereka untuk menemukan kebenaran Injil, dan memberi mereka kesempatan untuk bertindak dalam iman serta menjadi diinsafkan. Sewaktu kita berusaha untuk meneladani Yesus Kristus, kita menjadi para pembelajar dan guru yang lebih baik, dan kita membantu para pemimpin masa depan dari komunitas kita serta Gereja kita untuk menjadi para pembelajar dan guru yang hebat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar